Wednesday, March 27, 2013

Flat Nipple


Dulu.. Jauh sebelum punya anak seperti sekarang ini, I thought proses menyusui itu semudah membalikkan tangan.. Bayi tinggal didekatkan ke payudara ibu, dan lep, proses menyusui terjadi.

Tapi faktanya tidak begitu !


Lima hari setelah kelahiran mas Arya, proses menyusu antara kami belum terjalin dengan baik. Pasalnya, flat nipple a.k.a puting datar jadi penyebab utama. Yes, mine is flat !


Mas Arya ga bisa melekat dengan sempurna untuk dapat asupan asi. Padahal saya & suami sudah punya komitmen mau kasih ASI ekslusif, bahkan kalo bisa sampai 2 tahun. Amin. Ga sedikit pun kepikiran akan ngasih sufor. Kasarnya, ga minum ASI, mas Arya ga makan ! Sadis banget ya kesannya? But it worked on me !Berbekal tekad sekuat baja, kami berjuang agar proses pelekatan berhasil.


Tapi usaha menyusui dari payudara langsung belum juga berhasil sampai 2 minggu pertama. Selama recovery di RS, saya minta suster-suster untuk ngajarin bagaimana cara perlekatan yang benar, ikut internal konsultasi laktasi dan terus menerus berusaha. But still didn't work. Sampai akhirnya dr. Rosa menyarankan untuk memerah ASI dan memberikannya ke mas Arya pakai sendok.


Saat mas Arya tidur, saya meres asi, kadang dibantu oleh suami. Saat mas Arya bangun, kami menyendoki-nya ASI. Begitu terus sampai kurang lebih 2 minggu pertama. Waktu istirahat kami sangaaat kurang. Belum lagi kami memutuskan untuk memakaikannya popok kain, waktu tidur mas Arya jadi makin sedikit. Ditambah waktu suami sudah harus masuk kantor, makin menjadi deh. I was on my own. Kesal, lelah sampai pengen nyerah pun sempat terjadi.


Tapi untungnya Gusti Allah ora sare. Produksi asi saat itu mencukupi kebutuhan mas Arya, so we didn't worry about the supply.


Saya ingat betul waktu mas Arya harus kontrol ke RS di minggu pertama usia-nya. Kami sampai bawa 2 tas gemblok besar, yang berisi perlengkapan tambahan menyusui, seperti warmer, botol asip dingin, botol asip kosong, sendok dan breast pump minel. Semua dilakukan supaya mas Arya bisa mimik susu tanpa dot ! - Kebetulan kami penganut kontra dot garis keras -


Saat pemeriksaan itu, berat badan mas Arya naik dari 2,65 kg saat keluar dari RS menjadi 3,4 kg. Kami girang bukan kepalang, karena perjuangan kami yang tak kenal lelah & pantang menyerah berhasil, kenaikannya mencapai 800 gr. Kenaikan BB yang patut diacungin jempol untuk anak ASIX. Puji Tuhan !


Namun demikian, flat nipple dan belum bisa menyusui secara langsung masih membayangi. Kami berencana konsultasi dengan konsuler laktasi, sekaligus pendirinya di Rs. Carolus yaitu dr. Utami Roesli, tapi berhubung beliau lagi cuti waktu itu jadilah kami menyambangi dr. Jeanne yang kebetulan juga praktek di hari itu, as per dr. Rosa's advice.


1st impression, dokternya lelet ! Beliau sudah agak sepuh & saat itu tidak ada suster yang membantu, beliau mencatat data diri kami di kartu merah dengan sangat detail & sangat teliti dan juga pelan-pelan. Saya yang udah ga sabar pengin pulang karena sudah seharian di rs, rasanya mau nyuruh si dokter buat ngebut. Æ—Æ—É‘Æ—Æ—É‘Æ—Æ—É‘.. Tapi, meskipun begitu.... Jasa dr. Jeanne begitu besar buat mas Arya dan ibu-nya looh..


Di ruang praktek, dr. Jeanne bertanya tentang masalah kami & sempat memuji perjuangan kami yang belum mengenalkan mas Arya pada dot dan susu formula SAMA SEKALI. Ia pun lalu mengajarkan cara memijat dan mengompres  payudara dengan benar untuk melancarkan sirkulasi ASI juga tekhnik memeras ASI menggunakan tangan, or as known as marmet. Beliau menolak total penggunaan breast pump karena dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan aerola yang dapat berakibat fatal.


Saat proses konsultasi berlangsung, mas Arya bobok, jadi ga bisa praktek perlekatan menyusui yang benar langsung pada sumbernya. Akhirnya digantikan dengan boneka dulu deh hehe..


Keluar dari ruang praktek dr. Jeanne, semangat yang sempat kendur dan down kembali membara *hayaah bahasanya*. Seperti yang dikatakan dr. Jeanne, proses menyusui adalah proses alami antara ibu dan anak, karena itu.. Pasti bisa ! Pasti bisa ! Æ—Æ—É‘Æ—Æ—É‘Æ—Æ—É‘ kalah deh semangatnya Tung De Sem.
Biaya konsultasi dengan dr. Jeanne Rp. 150.000 sudah termasuk biaya administrasi dan dapat sepasang sarung tangan untuk mengompres payudara.

Bener aja, 3 hari setelahnya, mas Arya bisa menyusui langsung. Rasanya kaya terbang ke langit ke tujuh, ketemu bidadari khayangan dan dikasih emas permata. Senang bukan kepalang !


Mas Arya hebat ! Mas Arya juga belajar dan berjuang sama keras layaknya ibu ya.. Makasihh ya nak karena tidak menyerah !

 


✗o✗o

• Aryasatya Bisma Pandega is myn louter en alleen •

0 comments: